Posts

Showing posts with the label resolusi

2017

seperti tahun-tahun sebelumnya, di penghujung tahun selalu yang kulihat pertama adalah tanggal 2 di tahun baru. bukan masalah tahun baru tapi tanggal dua menjadi saksi bisu jasadku bertambah tua 19 tahun saudara saudariku tiba-tiba datang menyerbu lewat media sosial mereka mengetuk pintu mengatakan selamat ulang tahun padaku doa pun ikut mengiringi pertemuan itu tahun ini beda mataku sedikit mulai membuka dari pejamnya tanganku mulai gatal jika tak mengerjakan apa-apa otakku malu jika tak berpikir apa-apa hatiku takut jika tak berbuat kebaikan mataku telingaku hidungku lidahku badanku kakiku rambutku jantungku bahkan ruhku semuuuuuaaaanyaaaaa malu seperti itu! semuanya malu dengan tugas apa yang sudah diperintahkan pada mereka masing-masing semua malu dengan caranya semua malu tanpa perintahku malu dengan dia sendiri ada banyak resolusi hingga tak cukup jika hanya sebatas dikata ada banyak motivasi yang terus menyerbu tanpa ampun ada banyak mimpi yang ...

tetaplah semangat ! =D

Image
hola... kawan-kawanku ^^9 Alhamdulillah ya kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk menapaki angka 7 di belakang 201. yaps, 2017!!! tahun baru, tak jarang dikaitkan dengan resolusi baru. resolusi untuk menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. menulis ulang mimpi yang akan dicapai di tahun ini, atau sudah punya mimpi dan rencananya akan dicapai tahun ini (?) apapun itu.. kuy kita semangatkan diri kita. kita sadarkan bahwa hari ini kita masih hidup. kembang kempis dada masih terlihat, kita masih bernapas. sebagai sesama manusia, pastilah diri kita kadang luntur dari semangat. hilang motivasi atau demotivasi.. kadang kita tak tahu, harus melangkah ke mana. seolah kita tersesat sendiri, seorang diri, di tengah hamparan permadani dunia. seakan tak ada arah, tak ada petunjuk, lupa akan tujuan.. ya manusia. itulah manusia. maka, ketika lelah.. sesungguhnya kita butuh orang lain untuk memberi stimulus, rangsangan yang mampu meletupkan api semangat dalam hidup kita. kalau ada orang b...

ketahuilah

tidak semua dapat dijelaskan dengan kata-kata. jika dunia telah berhasil melemparku ke dasar jurang, berarti tidak ada jalan lain selain naik ke atas. biarkan bebatuan itu merutuki cengkraman tanganku, biarkan hujan membiaskan air mataku, biarkan angin menghembuskan dingin yang menusuk tulangku, biarkan badai menggoyahkan semangatku, biarkan tanah meluruh ingin menguburku, biarkan panas menyengat kulitku, biarkan peluh memandikan tubuhku, biarkan caci memaki diriku, kan kubiarkan semua berlalu dan menjadi bekalku.. untuk terus melangkah, mengokohkan dua kakiku, menguatkan cengkeramanku, menenangkan jiwaku.. yang kutahu, yang kucari, yang kumau, hanya RidhoNya tak berbekas setetes darah perjuanganku tanpa berkah yang menyala tidaklah apa di dasar jurang, kalau toh disitulah berkah berada.. bismillah.. lillah :)) ~ditulis di malam tahun baru semoga terus terpatri dalam sanubari, best regard, nonny

menua

Ketika umur bertambah.. Jika kutatap waktu, ia senantiasa berjalan, berubah.. Yang menandakan, semakin hari jatah waktu untuk hidup di bumi Allah kian berkurang. Misal kita diberi jatah waktu 60 tahun untuk menetap di bumi, berarti usia kita sekarang menunjukkan berapa banyak jatah yang sudah habis dan terlewat. Kini, tinggallah menikmati sisa dari jatah yang diberikan-Nya. Suatu hari, aku membaca buku Sejuta Pelangi karangan OSD. Di buku itu, aku benar-benar menangkap makna dari judulnya, Sejuta Pelangi. Ya, lika-liku kehidupan ini memang indah, bak pelangi yang warna warni. Setiap spektrumnya memiliki kekhasan sehingga menimbulkan kesan warna yang berbeda-beda, namun indah dipandang mata. Buku ini mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Hikmahnya selalu dapat kita petik dengan bijak. Dari masalah sederhana di sekitar hingga persoalan pernikahan. Mendekati bab akhir, tiba-tiba pikirku tersentak. Ya Allah, aku sudah bisa apa ya dengan usiaku sekarang? Sudah menghasilkan ap...

setahun yang lalu ...

Banyak sekali pelajaran yang aku petik di awal-awal bulan 2016. Ada sesuatu yang bereaksi, yang mau tidak mau menempa diriku secara perlahan. Banyak sekali perbedaan kejadian yang sesungguhnya tak boleh aku samakan dengan kejadian yang dulu. Kelas tiganya SMA jelas beda dong dengan kelas tiganya SMP. Tapi perbedaan itu sedikit sulit aku terima. Pada ujungnya, ketidakterimaanku ini membuatku menunjuk berbagai hal sebagai korban. Mereka menjadi pelampiasan kemarahanku, diriku semakin tak terkendali. Alih-alih berjuang demi kesuksesan itu dari hari ke hari semakin luntur, meluruh pelan. Aku pun tak kunjung sadar juga meskipun aku sadar dan cukup waras untuk melihat apa yang terjadi. Benar, belajar berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) tidaklah mudah. Tidak enak. Hampa. Sekalipun banyak orang ingin hidup sendiri, tak ada yang mengatur, tak ada yang memarahi, bebas. Tetapi tidak bagiku. Bagiku, hidup itu haruslah berteman, haruslah ada penopang ketika diri kita hampir tumbang,...

juu hassai

Tidak sunyi-sunyi amat ah .. Ada suara dentuman jam weker Anak ayam yang piyak-piyek yang nampaknya kehilangan jejak induknya Dan suara keheningan malam tengah malam Tapi.. ada yang lebih menyeramkan, suaranya dahsyat kerasnya, melebihi suara lapisan bumi yang akan belah menjadi dua, ada, ada yang sangat dahsyat.. Suara hati, suasana hati Malam ini, saat ini juga, gludhug senantiasa menggema. Ia menemaniku. Bahkan ia tahu perasaanku, melebihi aku. Nah, seperti itulah cara penanda akan turunnya hujan menemaniku, mendengarkan curahan hatiku, menghiasi malamku, itulah ekspresinya, gludhug yang bertubi-tubi, ia membuatku semakin mengerti, ... dia sang gludhug lah yang paling mengerti sekaligus paham akan isi hati ini. Terima kasih gludhug , kau telah melenyapkan teriakan keras retaknya sisi-sisi hatiku. Terima kasih sekali, lewat dirimu, aku tersadar, Allah Yang Maha Kuasa lebih dari sekadar mengerti apa-apa tentang hamba-Nya. Mungkin inilah hadiah terbaik yang datang...

Resolusi 1437 H

Alhamdulillah.. wasyukurillaah :) Malam ini menyentuh. Dor.. dor.. (setidaknya menggambarkan suara mercon). Mercon itu unik, unik sekali kalau dipahami, hanya sebagai kedipan cahaya di langit malam. Terlebih uniknya seakan mengatakan, “haii manusia!! Malam ini tahun baru!!!”. Malam ini bukan malam tahun baru masehi, bukan malam-malam Ramadhan teruntuk anak kecil ingusan, bukan pula malam takbiran menyambut hari raya idul fitri. Tidak perlu saya tegas dan jelaskan lagi, malam apa ini. Malam seperti biasa. Kalender hijriah yang menempel di dinding, warnanya menyoklat, ujungnya seperti dikrikiti tikus tidak tahu malu, penuh lekukan bekas dibolak-balik (ah, terlalu lebay!). waktunya diganti!!! -padahal tidak punya kalender hijriah- Tidak perlu jauh-jauh, teladan dapat datang dari mana saja. Sekalipun selembar kalender. Lagi-lagi, tidak ada yang spesial alias normal-normal saja. Tahun baru! Tahun baru! berarti ............ harus baru! 13 Oktober 2015, 19:09